HERMENEUTIKA
FILSAFAT
HERMENEUTIKA (HERMENEUTICA PHILOSOPHY)
BAB I
PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang
Salah satu ciri khas filsafat dewasa ini adalah perhatiannya kepada
bahasa. Tentu saja, bahasa bukan merupakan tema baru dalam filsafat. Minat
untuk masalah-masalah yang menyangkut bahasa telihat sepanjang sejarah
filsafat, sudah sejak permulaannya di Yunani. Namun demikian, perhatian
filosofis untuk bahasa itu belum pernah begitu umum, begitu luas dan begitu
mendalam seperti dalam abad ke-20. Dikatakan pula bahwa pada zaman ini bahasa
memainkan peranan yang dapat dibandingkan dengan being (ada) dalam
filsafat klasik dulu. Karena terdapat kemiripan tertentu, yaitu keduanya
bersifat universal. Hanya saja being adalah universal dari sudut
objektif: “ada” meliputi segala sesuatu; apa saja merupakan being.
Sedangkan bahasa adalah universal dari sudut subjektif: bahasa meliputi segala
sesuatu yang dikatakan dan diungkapkan.; makna atau arti hanya timbul dalam
hubungan dengan bahasa. Bahasa adalah tema yang dominan dalam filsafat
Eropa kontinental maupun filsafat Inggris dan Amerika. Di mana-mana dapat kita
saksikan the linguistic turn; di mana-mana refleksi filosofis berbalik
kepada bahasa. Dan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok
pembicaraan yang hampir eksklusif, seperti misalnya hermeneutika,
strukturalisme, semiotika, dan filsafat analitis.
Teori tentang asal-usul bahasa telah lama menjadi obyek kajian para ahli,
sejak dari kalangan psikolog, antropolog, filsuf maupun teolog, sehingga lahirlah
sub-sub ilmu dan filsafat bahasa, di antaranya yaitu hermeneutika. Sifat ilmu
pengetahuan adalah selalu berkembang dan berkaitan antara satu disiplin ilmu
dengan disiplin ilmu yang lain. Hermeneutika sering dikelompokkan dalam wilayah
filsafat bahasa, meskipun ia bisa juga mengklaim sebagai disiplin ilmu
tersendiri. Khususnya hermeneutika yang semula sangat dekat kerjanya dengan Biblical
Studies, dengan munculnya buku Truth and Method (1960) oleh
Hans-Geor Gadamer, maka hermeneutika mengembangkan mitra kerjanya pada semua
cabang ilmu. Gadamer mendasarkan klaimnya pada argumen bahwa semua disiplin
ilmu, termasuk ilmu alam, mesti terlibat dengan persoalan understanding
yang muncul antara hubungan subyek dan obyek.
Hermeneutika adalah kata yang sering didengar dalam bidang teologi,
filsafat, bahkan sastra. Hermeneutik Baru muncul sebagai sebuah gerakan dominan
dalam teologi Protestan Eropa, yang menyatakan bahwa hermeneutika merupakan
“titik fokus” dari isu-isu teologis sekarang. Martin Heidegger tak henti-hentinya
mendiskusikan karakter hermeneutis dari pemikirannya. Filsafat itu sendiri,
kata Heidegger, bersifat (atau harus bersifat) “hermeneutis”.
Sesungguhnya
istilah hermeneutika ini bukanlah sebuah kata baku, baik dalam filsafat maupun
penelitian sastra; dan bahkan dalam bidang teologi penggunaan term ini sering
muncul dalam makna yang sempit yang berbeda dengan penggunaan secara luas dalam
“Hermeneutika Baru” teologis kontemporer.
Hermeneutika
selalu berpusat pada fungsi penafsiran teks. Meski terjadi perubahan dan
modifikasi radikal terhadap teori-teori hermeneutika, tetap saja berintikan
seni memahami teks. Pada kenyataannya, hermeneutika pra-Heidegger (sebelum abad
20) tidak membentuk suatu tantangan pemikiran yang berarti bagi pemikiran
agama, sekalipun telah terjadi evaluasi radikal dalam aliran-aliran filsafat
hermeneutika. Sementara itu, hermeneutika filosofis dan turunannya dalam
teori-teori kritik sastra dan semantik telah merintis jalan bagi tantangan
serius yang membentur metode klasik dan pengetahuan agama.
Metode
hermeneutika lahir dalam ruang lingkup yang khas dalam tradisi Yahudi-Kristen.
Perkembangan khusus dan luasnya opini tentang sifat dasar Perjanjian Baru,
dinilai memberi sumbangan besar dalam mengentalkan problem hermeneutis dan
usaha berkelanjutan dalam menanganinya.
Para filosof
hermeneutika adalah mereka yang sejatinya tidak membatasi petunjuk pada ambang
batas tertentu dari segala fenomena wujud. Mereka selalu melihat segala sesuatu
yang ada di alam ini sebagai petunjuk atas yang lain. Jika kita mampu
membedakan dua kondisi ini satu dan yang lainnya, maka kita dapat membedakan
dua macam fenomena: ilmu dan pemahaman. Masalah ilmu dikaji dalam lapangan
epistemologi, sedangkan masalah pemahaman dikaji dalam lapangan hermeneutika.
Sehingga dengan demikian, baik epistemologi dan hermeneutika adalah ilmu yang
berdampingan.
B. Rumusan Masalah
- Bagaimana asal-usul dan pengertian hermeneutika?
- Bagaimana latar belakang munculnya filsafat hermeneutika?
- Bagaimana perkembangan filsafat hermeneutika beserta para tokohnya?
BAB II
PEMBAHASAN
- A. Asal-usul dan Defenisi Hermeneutika
Sebelum kita
mendefinisikan filsafat hermeneutika, kita akan mengetahui terlebih dahulu
asal-mula kata hermeneutika. Sudah umum diketahui bahwa dalam masyarakat Yunani
tidak terdapat suatu agama tertentu, tapi mereka percaya pada Tuhan dalam
bentuk mitologi. Sebenarnya dalam mitologi Yunani terdapat dewa-dewi yang
dikepalai oleh Dewa Zeus dan Maia yang mempunyai anak bernama Hermes. Hermes
dipercayai sebagai utusan para dewa untuk menjelaskan pesan-pesan para dewa di
langit. Dari nama Hermes inilah konsep hermeneutic kemudian digunakan.
Kata hermeneutika yang diambil dari peran
Hermes adalah sebuah ilmu dan seni menginterpretasikan sebuah teks.
Hermes diyakini
oleh Manichaeisme sebagai Nabi. Dalam mitologi Yunani, Hermes yang diyakini
sebagai anak dewa Zeus dan Maia bertugas menyampaikan dan menginterpretasikan
pesan-pesan dewa di gunung Olympus ke dalam bahasa yang dipahami manusia.
Hermes mempunyai kaki bersayap dan dikenal dengan Mercurius dalam bahasa Latin.
Menurut Abed al-Jabiri dalam bukunya Takwīn al-‘Aql al-‘Ârabi, dalam mitologi
Mesir kuno, Hermes/Thoth adalah sekretaris Tuhan atau orisin Tuhan yang telah
menulis disiplin kedokteran, sihir, astrologi dan geometri. Hermes yang dikenal
oleh orang Arab sebagai Idris as, disebut Enoch oleh orang Yahudi. Baik Idris
as, Hermes, Thoth, dan Enoch adalah merupakan orang yang sama.
Sosok Hermes ini
oleh Sayyed Hossein Nasr kerap diasosiasikan sebagai Nabi Idris as. Menurut
legenda yang beredar bahwa pekerjaan Nabi Idris adalah sebagai tukang tenun.
Jika profesi tukang tenun dikaitkan dengan mitos Yunani tentang peran dewa
Hermes, ternyata terdapat korelasi positif. Kata kerja “memintal” dalam bahasa
latin adalah tegree, sedang produknya disebut textus atau text,
memang merupakan isu sentral dalam kajian hermeneutika. Bagi Nabi Idris as atau
Dewa Hermes, persoalan yang pertama dihadapi adalah bagaimana menafsirkan pesan
Tuhan yang memakai “bahasa langit” agar bisa dipahami oleh manusia yang
menggunakan bahasa “bumi”. Di sini barangkali terkandung makna metaforis tukang
pintal, yakni memintal atau merangkai kata dan makna yang berasal dari Tuhan
agar nantinya pas dan mudah dipahami (dipakai) oleh manusia.
Hermeneutika (Indonesia),
hermeneutics (Inggris), dan hermeneutikos (Greek) secara bahasa punya makna
menafsirkan. Seperti yang dikemukakan Zygmunt Bauman, hermeneutika berasal dari
bahasa Yunani hermeneutikos berkaitan dengan upaya “menjelaskan dan memelusuri”
pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas,
kabur, dan kontradiksi, sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi
pendengar atau pembaca.
Akar kata
hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermēneuein
(menafsirkan) atau kata benda hermēneia (interpretasi). Al-Farabi
mengartikannya dengan lafal Arab al-‘ibāroh (ungkapan). Kata Yunani hermeios
mengacu kepada seorang pendeta bijak Delphic. Kata hermeios dan kata
kerja hermēneuien dan kata benda hermēneia biasanya dihubung-hubungkan
dengan Dewa Hermes, dari situlah kata itu berasal. Hermes diasosiasikan dengan
fungsi transmisi apa yang ada di balik pemahaman manusia ke dalam bentuk apa
yang dapat ditangkap oleh intelegensia manusia. Kurang lebih sama dengan
Hermes, seperti itu pulalah karakter dari metode hermeneutika.
Dengan menelusuri
akar kata paling awal dalam Yunani, orisinalitas kata modern dari
“hermeneutika” dan “hermeneutis” mengasumsikan proses “membawa sesuatu untuk
dipahami”, terutama seperti proses ini melibatkan bahasa, karena bahasa
merupakan mediasi paling sempurna dalam proses.
Mediasi dan proses
membawa pesan “agar dipahami” yang diasosiasikan dengan Hermes ini terkandung
di dalam tiga bentuk makna dasar dari hermēneuien dan hermēneia
dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk kata kerja dari hermēneuein,
yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata, misalnya “to say”; (2) menjelaskan;
(3)menerjemahkan. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dalam bentuk kata kerja
bahasa Inggris, “to interpret.” Tetapi masing-masing ketiga makna itu
membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi.
Sebagai turunan
dari simbol dewa, hermeneutika berarti suatu ilmu yang mencoba menggambarkan
bagaimana sebuah kata atau suatu kejadian pada waktu dan budaya yang lalu dapat
dimengerti dan menjadi bermakna secara eksistensial dalam situasi sekarang.
Dengan kata lain, hermeneutika merupakan teori pengoperasian pemahaman dalam
hubungannya dengan interpretasi terhadap sebuah Teks.
Dalam Webster’s
Third New International Dictionary dijelaskan definisinya, yaitu “studi
tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi; khususnya
studi tentang prinsip-prinsip umum interpretasi Bibel.” Setidaknya ada
tiga bidang yang sering akrab dengan term hermeneutika: teologi, filsafat, dan
sastra.
Persoalan utama
hermeneutika terletak pada pencarian makna teks, apakah makna obyektif atau
makna subyektif. Perbedaan penekanan pencarian makna pada ketiga unsur
hermeneutika: penggagas, teks dan pembaca, menjadi titik beda masing-masing
hermeneutika. Titik beda itu dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori
hermeneutika: hermeneutika teoritis, hermeneutika filosofis, dan hermeneutika
kritis. Pertama, hermeneutika teoritis. Bentuk hermeneutika seperti ini
menitikberatkan kajiannya pada problem “pemahaman”, yakni bagaimana memahami
dengan benar.
Sedang makna yang
menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki
penggagas teks. Kedua, hermeneutika filosofis. Problem utama
hermeneutika ini bukanlah bagaimana memahami teks dengan benar dan obyektif
sebagaimana hermeneutika teoritis. Problem utamannya adalah bagaimana “tindakan
memahami” itu sendiri. Ketiga, hermeneutika kritis. Hermeneutika ini
bertujuan untuk mengungkap kepentingan di balik teks. hermeneutika kritis
menempatkan sesuatu yang berada di luar teks sebagai problem hermeneutiknya.
Hubungan antara hermeneutika dengan ilmu filsafat
Bahasa
Hermenetik menurut pandangan kritik sastra ialah
Sebuah metode untuk memahami teks yang diuraikan dan diperuntukkan bagi
penelaahan teks karya sastra. Hermenetik cocok untuk membaca karya sastra
karena dalam Kajian sastra, apa pun bentuknya, berkaitan dengan suatu aktivitas
yakni interpretasi (penafsiran). Kegiatan apresiasi sastra dan kritik sastra,
pada awal dan akhirnya, bersangkut paut dengan karya sastra yang harus
diinterpreatasi dan dimaknai. Semua kegiatan kajian sastra–terutama dalam
prosesnya–pasti melibatkan peranan konsep hermeneutika. Oleh karena itu,
hermeneutika menjadi hal yang prinsip dan tidak mungkin diabaikan. Atas dasar
itulah hermeneutika perlu diperbincangkan secara komprehensif guna memperoleh
pemahaman yang memadai. Dalam hubungan ini, mula-mula perlu disadari bahwa
interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu proses yang hanya
menyentuh permukaan karya sastra, tetapi yang mampu “menembus kedalaman makna”
yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, interpreter (si penafsir) mesti
memiliki wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang cukup luas dan mendalam.
Berhasil-tidaknya interpreter untuk mencapai taraf interpretasi yang optimal,
sangat bergantung pada kecermatan dan ketajaman interpreter itu sendiri. Selain
itu, tentu saja dibutuhkan metode pemahaman yang memadai; metode pemahaman yang
mendukung merupakan satu syarat yang harus dimiliki interpreter. Dari beberapa
alternatif yang ditawarkan para ahli sastra dalam memahami karya sastra, metode
pemahaman hermeneutika dapat dipandang sebagai metode yang paling memadai.
Karya sastra dalam pandangan hermeneutic
ialah sebagai objek yang perlu di interprestasikan oleh subjek (hermeneutik).
Subjek dan objek tersebut adalah term-term yang korelatif atau saling
bertransformasi satu sama lain yang sifatnya merupakan hubungan timbal balik.
Tanpa adanya subjek, tidak akan ada objek. Sebuah benda menjadi objek karena
kearifan subjek yang menaruh perhatiaan pada subjek itu. Arti atau makna
diberikan kepada objek oleh subjek, sesuai dengan pandangan subjek. Hussrel
menyatakan bahwa objek dan makna tidak akan pernah terjadi secara serentak atau
bersama-sama, sebab pada mulanya objek itu netral. Meskipun arti dan makna
muncul sesudah objek atau objek menurunkan maknanya atas dasar situasi objek,
semuanya adalah sama saja. Maka dari sinilah karya sastra dipandang sebagai
lahan (objek) untuk ditelaah oleh hermeneutic supaya muncul interpretasi
pemahaman dalam teks karya satra tersebut.
Bahasa dalam pandangan hermeneutic
sebagai medium yang tanpa batas, yang membawa segala sesuatu yang ada
didalamnya, termasuk karya sastra yang menjadi objek kajiaannya. Hermenetik
harus bisa bergaul dan berkomunikasi dengan baik dengan bahasa supaya tercipta
transformasi di dalamnya terutama dalam membedah teks karya sastra. Disamping
hermeneutic harus bisa menyesuaikan diri dengan bahasa sebagai kupasan-kupasan
linguistic, supaya tercipta aturan tatabahasa yang baik dan memudahkan langkah
kerja hermeneutic dalam memberikan interpretasi dan pemahaman yang optimal
terhadap tkes karya sastra.
Pendekatan hermeneutic merupakan suatu
cara untuk memahami agama (teks kitab suci). Pendekatan ini dianggap tepat
dalam memahami karya sastra dengan pertimbangan bahwa diantara karya tulis,
yang paling dekat dengan agama adalah karya sastra. Pada tahap tertentu teks
agama sama dengan teks karya sastra. Perbedaannya, merupakan kebenaran
keyakinan, sastra merupakan kebenaran imajinasi, agama dan sastra adalah
bahasa, baik lisan maupun tulisan. Asal mula agama adalah firman tuhan, asal
mula sastra adalah kata-kata pengarang. Baik sebagai hasil ciptaan subjek
illahi maupun subjek creator, agama dan sastra perlu di
intrpretasikan/ditafsirkan, sebab disatu pihak seperti disebutkan diatas, kedua
genre terdiri atas bahasa. Di pihak lain, keyakinan dan imajinasi tidak bisa
dibuktikan, melainkan harus ditafsirkan. Pendekatan hermeneutic tidak mencari
makna yang benar, melainkan mencari makna yang optimal. Dalam
menginterpretasikannya, untuk menghindari keterbatasan proses interpretasi,
peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas, pada umumnya dilakukan dengan
gerak spiral. Penafsiran terjadi karena setiap objek memasang setiap horizon
dan paradigma yang berbeda. Pluralitas presfektif dalam memberi interpretasi
pada gilirannya memberikan kekayaan makna dalam suatu karya sastra, menambah
kualitas estetika, etika dan logika.
Metode penerapannya Menurut Paul Ricoeur perlu
dilakukannya distansiasi atas dunia teks (objek) dan apropriasi atau pemahaman
diri. Dengan perkataan lain, jika teks (objek) dipahami melalui analisis relasi
antar unsurnya (struktural), bidang-bidang lain yang belum tersentuh bisa
dipahami melalui bidang-bidang ilmu dan metode lain yang relevan dan
memungkinkan. Agar lebih jelas, konsep dan cara kerja metode dan pendekatan
yang telah diuraikan di atas dalam kaitannya dengan karya seni sebagai subjek
penelitian sebagai berikut:
a. Mula-mula teks (seni) ditempatkan sebagai
objek yang diteliti sekaligus sebagai subjek atau pusat yang otonom. Karya seni
diposisikan sebagai fakta ontologi.
b. Selanjutnya, karya seni sebagai
fakta ontologi dipahami dengan cara mengobjektivasi strukturnya. Di sini
analisis struktural menempati posisi penting.
c. Pada tahap berikutnya, pemahaman semakin
meluas ketika masuk pada lapis simbolisasi. Hal ini terjadi sebab di sini
tafsir telah melampaui batas struktur.
d. Kode-kode simbolik yang ditafsirkan tentu
saja membutuhkan hal-hal yang bersifat referensial menyangkut proses kreatif
seniman dan faktor-faktor yang berkaitan dengannya.
e. Kode simbolik yang dipancarkan
teks dan dikaitkan dengan berbagai persoalan di luar dirinya menuntut disiplin
ilmu lain untuk melengkapi tafsir.
f. Menurut Paul Ricoeur
Hermeneutika, Sebuah Cara Untuk Memahami Teks yang pada Akhirnya, ujung dari
proses itu adalah ditemukannya makna atau pesan. Dari skema tampak bahwa makna
dan pesan dalam tafsir hermeneutik berada pada wilayah yang paling luas dan
paling berjauhan dengan teks (karya seni sebagai fakta ontologisnya), tetapi
tetap berada di dalam horizon yang dipancarkan teks.
Hermeneutik Salah satu bagian yang perlu
lebih jauh dijelaskan dalam skema di atas adalah soal simbolisasi ujar Ricour.
Teks, yang tidak lain adalah formulasi bahasa, adalah kumpulan penanda yang
sangat kompleks. Saussure mendikotomikan bahasa sebagai penanda (citra akustis,
bunyi) versus petanda (konsep). Bahasa adalah lambang yang paling kompleks
dibandingkan dengan berbagai hal lain di masyarakat. Dalam kaitan dengan
hermeneutika, Ricoeur kemudian menyebut metafora (pengalihan nama, perbandingan
langsung, perlambangan) sebagai bagian penting untuk dibahas dalam
hermeneutika. Pemahaman atas teks, menurut Ricoeur, niscaya akan berlanjut
kepada pemahaman tentang metafora.
Plus minusnya. Kekurangan teori ini
adalah objektifitas teori ini diragukan karena terjadi subjektifitas
penafsir/interpreter. Maka peran interpreter sangat urgen sekali dalam memberi
makna dan pemahaman terhadap teks, sebetulnya yang terpenting bagi interpreter
adalah bagaimana hermeneutika itu dapat diterapkan secara kritis agar tidak ketinggalan
zaman. Dalam konteks ini, barangkali interpreter perlu menyadari bahwa sebuah
pemahaman dan interpretasi teks pada dasarnya bersifat dinamis.
Menurut Pandangan Lefevere bahwa
hermeneutika tidak dapat dipakai sebagai dasar ilmiah studi sastra atau sebagai
metode pemahaman teks sastra yang utuh, sebenarnya cukup beralasan karena dalam
kenyataannya sastra membutuhkan pemahaman yang kompleks-yang berkaitan dengan
teks, konteks, dan kualitas pembaca (interpreter).
Kelebihan teori ini ialah memberikan interpretasi
terhadap kajian dalam teks sastra secara terus-menerus, karena interpretasi
terhadap teks itu sebenarnya tidak pernah tuntas dan selesai. Dengan demikian,
setiap teks sastra senantiasa terbuka untuk diinterpretasi terus-menerus.
Proses pemahaman dan interpretasi teks bukanlah merupakan suatu upaya
menghidupkan kembali atau reproduksi, melainkan upaya rekreatif dan produktif.
Konsekuensinya, maka peran subjek sangat menentukan dalam interpretasi teks
sebagai pemberi makna. Oleh karena itu, kiranya penting menyadari bahwa
interpreter harus dapat membawa aktualitas kehidupannya sendiri secara intim
menurut pesan yang dimunculkan oleh objek tersebut kepadanya.
Secara keseluruhan, dapatlah dinyatakan
bahwa hermeneutika memang dapat diterapkan dalam interpretasi sastra. Dalam
interpretasi sastra, hermeneutika tidak lagi hanya diletakkan dalam kerangka
metodologis, tetapi ia sudah mengikuti pemikiran hermeneutika mutakhir yang
berada dalam kerangka ontologis. Ini kaitannya dengan Tiga varian hermeneutika
(tradisional, dialektik, dan ontologis).
1. Konsep Dasar
Hermeneutika
Pada dasarnya, hermeneutika berusaha memahami apa yang dikatakan dengan
kembali pada motivasinya atau kepada konteksnya, diperlukan konsep kuno yang
bernama “kata batin” – inner word.
Hermenetika, yang dalam bahasa Inggrisnya adalah hermeneutics, berasal dari kata Yunani hermeneutine dan hermeneia yang masing – masing berarti
“menafsirkan dan “ penafsiran”.
Istilah did dapat dari sebuah
risalah yang berjudul Peri Hermeneias (Tentang Penafsiran).
Hermeneutica juga bermuatan pandangan
hidup dari penggagasnya.
Dalam tradisi Yunani, istilah hermeneutika diasosiasikan dengan Hermes
(Hermeios), seorang utusan dewa dalam mitologi Yunani kuno yang bertugas
menyampaikan dan menerjemahkan pesan dewa ke dalam bahasa manusia. Menurut
mitos itu, Hermes bertugas menafsirkan kehendak dewata (Orakel) dengan bantuan
kata-kata manusia.
Tiga makna hermeneutis yang
mendasar yaitu :
a).
Mengungkapkan
sesuatu yang tadinya masih dalam pikiran melalui kata-kata sebagai medium
penyampaian.
b).
Menjelaskan
secara rasional sesuatu sebelum masih samar- samar sehingga maknanya dapat
dimengerti
c).
Menerjemahkan
suatu bahasa yang asing ke dalam bahasa lain.
Tiga pengertian tersebut terangkum dalam
pengertian ”menafsirkan” – interpreting, understanding.
Dengan demikian hermeneutika
merupakan proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.
Definisi lain, hermeneutika metode atau cara untuk menafsirkan simbol berupa
teks untuk dicari arti dan maknanya, metode ini mensyaratkan adanya kemampuan
untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudia di bawa ke masa
depan.
Menurut Carl Braathen
hermeneutika adalah ilmu yang merefleksikan bagaimana satu kata atau satu
peristiwa di masa dan kondisi yang lalu bisa dipahami dan menjadi bermakna di
masa sekarang sekaligus mengandung aturan – aturan metodologis untuk
diaplikasikan dalam penafsiran dan asumsi-asumsi metodologis dari aktivitas
pemahaman.
Semula hermeneutika berkembang
di kalangan gereja dan dikenal sebagai gerakan eksegegis (penafsiran teks-teks
agama) dan kemudia berkembang menjadi filsafat penafsiran.
Sebagai sebuah metode
penafsiran, hermeneutika memperhatikan tiga hal
sebagai komponen pokok dalam kegiatan penafsiran yakni teks, konteks dan
kontekstualisasi.
Dengan demikian setidaknya
terdapat tiga pemahaman mengenai hermeneutika yakni :
1. Sebagai teknik praksis pemahaman atau
penafsiran, dekat dengan eksegegis, yakni kegiatan memberi pemahaman tentang
sesuatu atau kegiatan untuk mengungkapkan makna tentang sesuatu agar dapat
dipahami.
2.
Sebagai sebuah metode penafsiran, tentang the conditions of possibility sebuah
penafsiran. Hal – hal apa yang dibutuhkan atau langkah-langkah bagaimana harus
dilakukan untuk menghindari pemahaman yang keliru terhadap teks.
3.
Sebagai penafsiran fisafat.
2.
Cara Kerja Hermeneutika
Pada dasarnya semua objek itu
netral, sebab objek adalah objek. Arti atau makna diberikan kepada objek oleh
subjek, sesuai dengan cara pandang subjek.
Untuk dapat membuat
interpretasi, lebih dahulu harus memahami atau mengerti. Mengerti dan interpretasi menimbulkan
lingkaran hermeneutik. Mengerti secara sungguh-sungguh hanya akan dapat
berkembang bila didasarkan atas pengetahuan yang benar.
Hukum Betti tentang
interpretasi”Sensus non est inferendus sed efferendus” makna bukan diambil
dari kesimpulan tetapi harus diturunkan. Penafsir tidak boleh bersifat pasif
tetapi merekonstruksi makna. Alatnya adalah cakrawala intelektual penafsir.
Penagalam masa lalu, hidupnya saat ini, latar belakang kebudayaan dan sejarah
yang dimiliki.
3.
Bahasa Sebagai Pusat Kajian
Karena objek utama
hermeneutika adalah teks dan teks adalah hasil atau produk praksis berbahasa, maka antara hermeneutika dengan bahasa
akan terjalin hubungan sangat dekat.
Dalam Gadamer’s Philoshopical hermeneutics
dinyatakan, Gadamer places language at
the core of understanding.
Menurut folosof bahasa Wittgenstein “ Batas
bahasaku adalah batas duniaku”.
Menurut
Gadamer, asal mula bahasa adalah
bahasa tutur, yang kemudian disusl bahasa tulis untuk efektivitas dan
kelestarian bahasa tutur.
4. Hermeneutika Dalam
Pandangan Filosofi
a). Friedrich Ernst Daniel
Schleiermarcher
Hermeneutika sebagai metode interpretasi dan menganggap semua teks dapat
menjadi objek kajian hermeneutka.
Hermeneutika adalah sebuah teori tentang penjabaran dan interpretasi teks
mengani konsep-konsep tradisional kitab suci dan dogma.
Makna bukan sekedar isyarat yang dibawa oleh bahasa, sebab bahasa dapat
mengungkakan sebuah realitas dengan jelas, tetapi pada saat yang sama dapat
menyembunyikan rapat-rapat.
Schleiermacher menawarkan sebuah metode rekonstruksi histories, objektif
dan subjektif terhadap sebuah pernyataan, membahas dengan bahasa secara
keseluruhan.
Tugas utama hermeneutika adalah memahami teks sebaik atau bahkan lebih
baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik
daripada memahami diri sendiri.
Model hermeneutika Schleiermacher meliputi dua
hal :
1.
Pemahaman teks melalui penguasaan terhadap
aturan-aturan sintaksis bahasa pengarang sehingga menggunakan pendekatan
linguistic.
2.
Penangkapan muatan emosional dan batiniah pengarang
secara intuitif dengan menempatkan diri penafsir ke dalam dunia batin
pengarang.
Dengan demikian, terdapat makna autentik dari sebuah teks, sebua teks
tidak mungkin bertujuan (telos).
b). Wilhelm Dilthey
Hermeneutika pada dasarnya bersifat menyejarah, makna tidak pernah
berhenti pada satu masa, tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah.
c).
Martin
Heidgger
Pemikiran filsafat Heidgger meliputi dua periode sebagai berikut :
1.
Periode 1 meliputi hakikat tentang “ada” dan “waktu”.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang
menanyakan tentang “ada”. Sebab, manusia pada hakikatnya”ada” tetapi tidak
begitu saja ada, melainkan senantiasa secara erat berkaitan dengan “adanya”
sendiri.
2. Periode 2 Menjelaskan pengertian”kehre”
yang berarti “pembalikan”. Ketidaktersembunyian ”ada” merupakan kejadian asli.
Berpikir pada hakikatnya adalah terikat pada arti. Oleh karena itu, manusia
bukanlah pengauasa atas apa yang ”ada” melainkan sebagai penjaga padanya.
Bahasa bukan sekedar alat
untuk menyampaikan dan memperoleh informasi. Bahas pada hakikatnya
adalah”bahasa hakikat” artinya berpikir adalah suatu jawaban, tanggapan atau
respons dan bukan manipulasi ide yang hakikatnya telah terkandung dalam proses
penuturan bahasa dan bukan hanya sebagai alat belaka. Dalam realitas, bahasa lebih menentukan
daripada fakta atau perbuatan. Bahasa adalah tempat tinggal ” sang ada”. Bahasa merupakan ruang bagi pengalaman yang
bermakna. Pengalaman yang telah diungkapkan adalah pengalaman yang telah
mengkristal, sehingga menjadi semacam substansi dan pengaaman menjadi tak
bermakna jika tidak menemukan rumahnya dalam bahasa. Sebaliknya, tanpa
pengalaman nyata, bahasa adalah ibarat ruang kosong tanpa kehidupan.
Pemahaman teks terletak pada
kegiatan mendengarkan lewat bahasa manusia perihal apa yang dikatakan dalam
ungkapan bahasa.
Bahasa adalah suatu proses,
suatu dinamika, atau suatu gerakan.
d).
Hans-Georg
Gadamer
Konsep Gadamer yang menonjol
dalam hermeneutika adalah menekankan apa yang dimaksud ”mengerti”. Lingkaran
hermeneutika – hermeneutic circle ,
bagian teks disa dipahami lewat keseluruhan teks hanya bisa dipahami lewat
bagian- bagiannya.
Setiap pemahaman merupakan
sesuatu yang bersifat historis, dialetik dan peristiwa kabahasaan. Hermeneutika
adalah ontologi dan fenomologi pemahaman.
e).
Jurgen
Habermas
Hermeneutika bertujuan untuk memahami proses pemahaman – understanding
the process of understanding.
Pemahaman adalah suatu kegiatan pengalaman dan pnegertian teoritis
berpadu menjadi satu.
Tidak mungkin dapat memahami sepenuhnya makna sesuatu fakta, sebab selalu
ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasikan.
Bahasa sebagai unsur
fundamental dalam hermeneutika. Sebab, analisis suatu fakta dilakukan melalui
hubungan simbol-simbol dan simbol-simbol tersebut sebagai simbol dari fakta.
f).
Paul
Ricoeur
Teks adalah otonom atau
berdiri sendiri dan tidak bergantung pada maksud pengarang. Otonomi teks ada
tiga macam sebagai berikut :
a).
Intensi
atau maksud pengarang.
b).
Situasi
kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.
c).
Untuk
siapa teks dimaksud.
Tugas hermeneutika mengarahkan
perhatiannya kepada makna objektif dari teks itu sendiri, terlepas dari maksud
subjektif pengarang ataupub orang lain.
Interpretasi dianggap telah
berhasil mencapai tujuannya jika ”dunia teks” dan ” dunia interpreter” telah
berbaur menjadi satu.
g).
Jacques
Derrida
Dalam filsafat bahasa – dalam
kaitan dengan hermeneutika, membedakan antara ”tanda” dan ”simbol”. Setiap
tanda bersifat arbitrer. Bahasa menurut
kodartnya adalah ”tulis”Objek timbul dalam jaringan tanda, dan jaringan atau rajutan
tanda ini disebut ”teks”. Segala sesuatu yang ada selalui ditandai dengan
tekstualitas. Tidak ada makna yang melebihi teks. Makna senantiasa tertenun
dalam teks.
5. Beberapa Kaidah Hermeneutika
a).
Dibutuhkan
keterlibatan dan atau partisipasi
b).
Setiap
usaha penafsiran, tidak bisa dihindari adanya akibat ikutan dari partisipasi
dan latar belakang penafsi.
c).
Upaya
penafsiran harus dilihat sebagao proses pendekatan – approximation kepada makna
sejati.
d).
Walaupun
ada wilayah perbedaan karena partisipasi dan latar belakang penafsir, niscaya
ada pula wilayah yang mempertemukan atar penafsir, pamahaman bersama – shared understanding, mutual understanding yang
melahirkan cross cutting affiiation.
6.
Peran Hermeneutika Terhadap Martabat Manusia
Manusia selain sebagai makhluk
yang berpikir – hayawan al-natiq, hewan
yang berpikir, disebut juga sebagai animalsymbolicum,
makhluk yang senantiasa bergulat dengan simbol.
Hermeneutika memilki
tanggungjawab utama dalam menyingkap dan menampilkan makna yang ada di balik
simbol-simbol yang menjadi objeknya.
Filsafat hermeneutika
berkembang dengan dua aliran pemikiran yang berlawanan yakni pragmatika intensionalisme dan hermeneutika gadamerian.
Intensionalisme memandang
bahwa makna sudah ada karena dibawa oleh penyusun teks – pengarang sehingga
tinggal menunggu interpretasi penafsir dan makna berada di beakang teks –
behind the teks.
Hermeneutika gadamerian
memandang bahwa makna harus dikonstruksi dan direkonstruksi oleh penafsir itu
sendiri sesuai konteksnya, sehingga makna berada di depan teks – in front of
the text.
7.
Beberapa Varian Hermeneutika
a).
Hermeunitka
Romantis
§
Dengan tokoh Friedrich Ernst
Daniel Schleiermacher,
bapak hermeneutka
§ Makna hermeuneutika berubah dari sekedar
kajian teleologis – teks bible menjadi metode memahami dalam pengertian
filsafat.
§ Bagaimana pemahaman manusia dan bagaimana
ia terjadi.
§ Dua teori pemahaman pertama pemahaman
ketatabahasaan – grammayical understanding, terhadap semua ekspresi, kedua
pemahaman psikologis terhadap pengarang – dikembangkan menjadi intuitive
understanding yang operasionalisasi merupakan rekonstruksi – merekonstruksi
pikiran pengarang.
§ Tujuan pemahaman lebih merupakan makna
yang muncul dalam pandangan pengarang yang telah direkonstruksi.
§ Tidak hanya melibatkan pemahaman konteks
kesejarahan dan budaya pengarang tetapi juga pemahaman terhadap subjektivitas
pengarang.
§ Ada lima unsur dalam pemahaman penafsir,
teks, maksud pengarang, konteks historis dan konteks kultural.Hasil
interpretasi akan lebih baik jika penafsir mengatahui latar belakang sejarah
pengarang teks.
Bagan Hermeneutika Romantisme
Konteksi Historis
Konteks
Kultural
b).
Hermeneutika
Metodis
§ Tokoh Wilhem DiltheyManusia sebagai
makhluk eksestensial.
§ Manusia adalah makhluk yang memahami dan
menafsirkan dalam setiap aspek kehidupan.
§ Makna teks harus ditelusuri dari subjek
tif pengarangnya.
§ Merupakan metode pemahaman –
interpretative methode.
§ Hermeneutika adalah teknik memahami
ekspresi tentang kehidupan yang tersusun dalam bentuk tulisan.
§ Hermeneutika historis.
c).
Hermeneutika
Fenomologis
§ Tokoh Edmund Husserl.
§ Pengetahuan dunia objektif bersifat tidak
pasti.
§ Proses pemikiran harus kembali pada data,
bukan pada pemikiran, yakni pada halnya sendiri harus menanmpakan diri.
§ Pengetahuan sejati adalah kehadiran data
dalam kesadaran budi, bukan rekayasa pikiran untuk membentuk teori.
§ Membebaskan diri dari prasangka, yakni
membiarkan teks berbicara sendiri.
§ Teks merefleksikan kerangka mentalnya
sendiri dan penafsir harus netral dan menjauhkan diri dari unsur-unsur
subjektifnya atas objek.
§ Menafsirkan teks berarti secara
metodologis mengisolasi teks dari semua hal yang tak ada hubungannya – termasuk
bias –bias subjek penafsir dan membiarkannnya mengkomunikasikan maknanya
sendiri pada subjek.
§ Ada tiga langkah yang harus dilakukan :
1. Reduksi fenomologis, dengan menempatkan
dunia dalam tanda kurung.
2. Reduksi eiditik yang dikerjakan dengan
memusatkan perhatian dan pengamatan pada esensi sesuatu yang coba dipahami.
3. Rekonstruksi dengan menghubungkan hasil
reduksi fenomologis dengan hasil reduksi eidetik.
d).
Hermeneutika
Dialektis
§ Dengan eksemplar Martin Heidegger.
§ Prasangka historis atas objek merupakan
sumber pemahaman, karena prasangka adalah bagian dari eksistensi yang harus
dipahami.
§ Pemahaman adalah sesuatu yang muncul dan
sudah ada mendahului kognisi.
§ Keragaman makna dan dinamika eksistensial.
§ Memahami teks yang sama secara baru dengan
makna baru.
e).
Hermeneutika
Dialogis
§ Dengan eksemplar Hans-Georg Gadamer.
§ Pemahaman dimuai dengan pra-penilaian – pre-judgement.
§ Pemahaman yang benar adaah pemahaman yang
mengarah pada tingkat ontologis.
§ Kebenaran dapat dicapai melalui
dialektika denga mengajukan beberapa
pertanyaan.
§ Bahasa menjadi medium pendting bagi
terjadinya dialog.
§ Pembangkitan kembali makna teks.
§ Proses pemahaman adalah proses peleburan
horizon-horizon.
f).
Hermeneutika
Kritis
§ Dengan tokoh Jurgen Habermas.
§ Merupakan teori kritis, menemukan
kesalahan dan kekurangan pada kondisi yang ada.
§ Mempertautkan antara beragam domain
realitas, antara partikular dan universal, antara kulit dan isi dan antara
teori dan praktek.
§ Pemahaman didahului kepentingan,
kepentingan sosial dan kepentingan kekuasaan.
§ Merupakan refleksi kritis penafsir.
§ Penafsir mengambil jarak atau melangkah
keluar dari tradisi dan prasangka.
§ Setiap penafsiran dipastikan ada bias-bias
dan unsur-unsur kepentingan politik, ekonomi, sosial termasuk bias strata
kelas, suku dan gender.
g).
Hermeneutika
Integrasi Dialektis
§ Integrasi daliketis antara penjelasan –
explanatory dan pemahaman – understanding.
§ Merupakan perbedaan fundamental antara
paradigma interpretasi teks tertulis dan wacana – discourse dan percakapan – dialogue.
§ Berbagai interpretasi yang dapat diterima
menjadi mungkin.
h).
Hermeneutika
Dekonstruksionis
§ Dengan eksemplar Jacques Derrida.
§ Bahasa merupakan sistem yang tidak stabil.
§ Makna tulisan – teks, selalu mengami
perubahan, tergantung pada konteks pembacanya.
§ Menolak makna esensial yang tunggal dan
utuh.
§ Lebih menekankan pencarian makna
eksistensial.
Perkembangan hermenetika dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Scheleiermacher, mengubah makna hermenetika
dari sekedar kajian teks keagamaan – bible menjadi kajian pemikiran filsafat.
2. Wilhelm Dilthey, makna herneneutika menjadi kajian sejarah.
3. Edmund Husserl, pengetahuan dunia objektif
bersifat tak pasti, karena pengetahuan sesungguhnya diperoleh dari apparatus
sensor yang tak sempurna.
4. Martin Heidegger, Hermeneutika sebagai
kajian ontologis.
5. Hans –Georg Gadamer, Menekankan dialektika
– dialogis.
6. Jurgen Habermas, Menggeser makan
hermeneutika kepada pemahaman yang diwarnai oeh kepentingan.
7. Paul Ricoeur, Aspek pandangan hidup
interpreter sebagai faktor utama.
8.
Interpretasi
Interpretasi adalah proses
memperantarai dan menyampaikan pesan yang secara eksplisit dan implisit termuat
dalam realitas. Interpretator ádalah
jurubahasa, penerjemah pesan realitas, pesan yang tidak segera jelas, tidak
segera dapat diartikulasikan, yang sering diliputi misteri, yang dapat diungkap
hanya sekelumit demi sekelumit, tahap demi tahap.
Proses memperantarai dan
menyampaikan pesan agar dapat dipahami mencakup tiga arti yang terungkap di
dalam tiga kata Kerja yang saling berkaitan satu dengan yang lain :
§ Mengkatakan,
§ Menerangkan
§ Menerjemahkan (dalam arti membawa dari
tepi satu ke tepi yang lain.
8.1. Interpretasi adalah mengkatakan
Interpretasi berfungsi
menunjuk arti, mengkatakan, menuturkan, mengungkapkan, membiarkan tampak,
membukakan sesuatu yang merupakan pesan realitas.
Metode yang digunakan adalah
yang memungkinkan realitas memberita, mengkatakan dirinya, jauh dari segala
distorsi dan disonansi.
Ukuran kebenaran interpretasi
adalah manakala interpretasi bertumbuh, berasuh pada evidensi-evidensi
objektif, pada hal-hal yang memang sesungguhnya dapat diidentifikasi merupakan
kata realitas, terbukti dapat dikenali terdapat di dalam realitas itu sendiri.
Dengan demikian berpikir yang
benar-benar berpikir dan semua serta setaip berpikir adalah interperatsi,
bukanlah monolog, melainkan dialog. Dan dialog adalah proses, maka kejernihan
pandangan yang dicapai, kebenaran yang diperoleh, pesan realitas yang terartikulasikan,
memberitakan realitas tidak seketika fina, tidakseketika habis selesai, tetapi
juga sesuatu proses. Maka interpretasi bercirikan senantiasa siap dikoreksi
lagi dan lagi dikoreksi dan senantiasa merukuskan kembali segalanya yang memang
harus dirumuskan kembali.
8,2. Interpretasi sebagai menerangkan.
Dimensi ”menerangkan” dari
interpretasi adalah sesuatu dibuat terang. Kegiatan interpretasi dilaksanakan
dengan memasukkan faktor luar, seperti misalnya menunjuk arti teks yang lebih
tua, menunjuk peristiwa yang de facto meliputi, menggelimangi bukan sekedar
melatarbelakangi teks.
Hal ini tidak berarti bahwa
suatu teks senantiasa dijelaskan lewat data diluar teks. Data dari luar hanya
relevan manakala dan sejauh pengaruh data tersebut dikenali sebagai terdapat
dalam teks. Pengetahuan tentang data dapat membantu memahami teks secara lebih
baik.
Dimensi interpretasi ini
menunjukkan bahwa arti adalah masalah konteks. Karenanya, seluruh kegiatan
ditujukan untuk menyediakan ruang pemahaman. Teks tidak begitu saja dpat
dipahami, dibutuhkan siatuasi pemahaman agar dua cakrawala bertemu, yakni
bilamana interpretator dapat melangkah masuk ke dalam lingkaran interpretasi
dan cakrawala teks yang ada.
8.3. Interpretasi sebagai menerjemahkan
Di dalam bahasa Jerman dipakai
istilah Ubersetzen yang berarti
menyebrangi sungai dari tepi satu ke tepi yang lain dengan ferry. Tugas
interpretasi sebagai ”memindahkan” arti seperti memindahkan arti teks kuno ke
dalam kehidupan manusia modern sehingga yang terlihat bukan lagi comedia errorum atau macam-macam hal
yang tidak cocok bagi telinga sezaman.
Dua cakrawala berhadapan.
Menerjemahkan bukan sekedar mengganti yang ada, tanpa menangkap inti
isinya, pesan yang disampaikan. Sedangkan menangkap pesan adalah masalah memasuki
cakrawala, fusi cakrawala.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
- Mediasi dan proses membawa pesan “agar dipahami” yang diasosikan dengan Dewa Hermes terkandung di dalam tiga bentuk makna dasar dari hermēneuien dan hermēneia dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk kata kerja dari hermēneuein, yaitu: to say, to explain, dan to translate atau to interpret.
- Setidaknya ada enam definisi tentang hermeneuitika modern yang juga menandai sejarah perkembangan hermeneutika itu sendiri.
- Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel.
- Hermeneutika sebagai metode filologis.
- Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik. Schleiemecher menandai lahirnya hermeneutika yang bukan lagi terbatas kepada idiom filologi maupun eksegesis Bibel, melainkan prinsip-prinsipnya bisa digunakan sebagai fundasi bagi semua ragam interpretasi teks (Hermeneutika Umum).
- Hermeneutika sebagai fundasi metodologi geisteswissenschaften. Wilhelm Dilthey menjadi figur utama pada perkembangan herneutika tahap ini. Ia melihat bahwa hermeneutika adalah inti disiplin yang dapat berlaku bagi geisteswissenschaften, yakni semua pemahaman yang mefokuskan pada seni, aksi, dan tulisan manusia.
- Hermeneutika sebagai fenomenologi Dasein dan pemahaman eksistensial. Pada titik inilah hermeneutika memasuki wilayah ontologis. Hermeneutika menjadi instrumen pengejawantahan Sang Ada (Being). Melalui Dasein yang menginterpretasi, segala Yang Ada mewujudkan diri. Konsepsi Heidegger ini pada akhirnya dilanjutkan oleh Gadamer yang menitik beratkan pada linguistik.
- Hermeneutika sebagai sistem interpretasi: menemukan makna versus ikonaklasme. Titik balik kreatif dilakukan oleh Paul Ricour yang mendefinisikan hermeneutika dengan mengacu kembali pada fokus eksegesis tekstual sebagai elemen distinktif dan sentral dalam hermeneutika.
- Muhammed Arkoun mengadopsi teori hermeneutika dalam tafsir Alquran, dengan melakukan kritik secara dekonstruktif lalu melakukan rekonstruksi.
DAFTAR PUSTAKA
Armas,
Adnin. Dampak Hermeneutika Schleiermacher dan Dilthey terhadap Studi
Al-Qurán. Jurnal Islamia, Vol. III, No. 3, 2008.
__________,Filsafat
Hermeneutika Menggugat Metode Tafsir al-Qurán, dalam Kumpulan Makalah
Workshop Pemikiran, IKPM cabang Kairo.
Audifax,HermeneutikadanSemiotika,www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif.
Bertens, K. Panorama
Filsafat Modern. Cet. I; Jakarta: Penerbit Teraju, 2005.
E. Palmer,
Richard. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey,
Heidegger, and Gadamer diterjemahkan oleh Masnuri Hery dan Damanhuri dengan
judul Hermeneutika; Teori Baru Mengenai Interpretasi. Cet. II;
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Hidayat,
Komaruddin. Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian Hermeneutik. Cet. I;
Jakarta: Paramadina, 1996.